PROGRAM GURU PENGGERAK ANGKATAN 2

KABUPATEN LOMBOK TENGAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

 Tindakan untuk Aksi Nyata

Modul : 1.4. Budaya Positif

Oleh CGP : Nurul Mufidah

SMAN 4 PRAYA

                                    Judul : MENINGKATKAN MOTIVASI SISWA DENGAN KESEPAKATAN KELAS WUJUD NYATA BUDAYA POSITIF SEKOLAH.

 

Latar belakang

 Motivasi didefinisikan sebagai dorongan. Dorongan merupakan suatu gerak jiwa dan perilaku seseorang untuk berbuat. Sedangkan motif dapat dikatakan suatu driving force yang artinya sesuatu yang dapat menggerakkan manusia untuk melakukan tindakan atau perilaku, dan di dalam tindakan tersebut terdapat tujuan tertentu. Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Sebuah motivasi dapat hadir baik datang dari diri sendiri maupun terinspirasi dari individu lainMotivasi ekstrinsik yaitu kemauan seseorang dalam melakukan sesuatu yang disebabkan karena adanya faktor dorongan yang berasal dari luar diri seseorang itu sendiri dengan adanya pengaruh dari lingkungan luar. Karena setiap tindakan dan pilihan ditentukan oleh diri kita masing masing sehingga motivasi yang kuat datang dari diri kita. Kesepakatan kelas berisi beberapa aturan untuk membantu guru dan murid bekerja bersama membentuk kegiatan belajar mengajar yang efektif. Kesepakatan kelas tidak hanya berisi harapan guru terhadap murid, tetapi juga harapan murid terhadap guru. Salah satu masalah yang serius di lingkungan saat ini adalah rendahnya mutu pendidikan, untuk di perlukan berbagai upaya dan strategi dalam meningkatkan mutu pendidikan ini. Salah satu hal terpenting yamg memengaruhi mutu pendidikan adalah budaya sekolah. Kultur sekolah yang positif adalah kegiatan-kegiatan yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan, misalnya kerjasama dalam mencapai prestasi, penghargaan terhadap prestasi, dan komitmen terhadap belajar. Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa dengan meniingkatkan kualitas guru,maksimalkan fasilitas pembelajaran, pilih metode pembelajaran yang tepat,memanfaatkan media belajar,dan lakukan evaluasi pembelajaran. Pembentukan watak dan peradaban yang diinginkan tentunya membutuhkan proses pembinaan dan pembiasaan, sehingga bisa menjadi sebuah kebudayaan, sesuai pasal 4, ayat 3 UU Sisdiknas.

Untuk mengejawantahkan pembentukan watak dan peradaban ini, bisa dilakukan dengan cara menerapkan budaya positif di sekolah. Pengertian dalam wikipedia adalah kata budaya berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi; diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. Bentuk lain dari kata budaya adalah kultur yang berasal dari bahasa Inggris yaitu culture dan bahasa Latin cultura. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia budaya adalah pikiran; akal budi atau sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah.

             Sedangkan menurut Koentjoroningrat dalam Syamaun, kebudayaan adalah lingkungan yang dihasilkan dari norma-norman dan nilai-nilai yang dipelihara oleh masyarakat selanjutnya dijadikan pedoman dan berkembang dalam kehidupan masyarakat, sehingga terbentuk menjadi satu sistem sosial.

Dalam penerapan budaya positif ini guru harus mampu menjadi role model dan posisi kontrolnya adalah sebagai manager yang lebih menekankan pada tumbuhnya kesadaran dari dalam diri siswa, bukan lantaran berlakunya hukuman. Di samping itu, untuk menerapkan budaya positif ini, guru tetap memperhatikan filosofis pemikiran KHD, terutama menerapkan among dan pamong, yaitu mengayomi, memfasilitasi, memotivasi dan berpihak pada anak. Selain itu, tetap memperhatikan kodrat anak dan kodrat alam.

Sebagai langkah awal untuk penerapan budaya positif, bisa dimulai dengan membuat kesepakatan kelas. Dalam pelaksanaannya, kesepakatan kelas ini harus melibatkan peserta didik.

Budaya positif yang tumbuh di kelas ini, hendaknya ditularkan kepada semua warga sekolah. Karenanya, seorang guru penggerak bisa berbagi praktik baik yang telah diterapkannya ini dengan rekan sejawat dalam pertemuan di sekolah, tentunya setelah terlebih dulu melakukan konsultasi dan koordinasi dengan kepala dan wakil kepala sekolah. Dengan adanya berbagi praktik baik untuk penerapan budaya positif ini, akan menciptakan sekolah yang teratur, nyaman, aman, serta terjadinya pembelajaran menyenangkan yang menekankan untuk mengeksplorasi hal-hal positif yang ada dalam diri peserta didik. Dengan demikian, visi sekolah pun akan lebih mudah untuk diwujudkan.

 

Tujuan

o    Memotivasi belajar murid dengan kesepakatan kelas penerapan budaya positif di sekolah.

Tolok ukur

o    Menggali  potensi  belajar murid dengan kesepakatan kelas.

 

Linimasa tindakan yang akan dilakukan

o    Meminta ijin kepada kepala sekolah pada saat sosialisasi rapat pembagian tugas ajaran baru.

o    Sosialisasi dan melakukan komunikasi dengan warga sekolah (ekosistem sekolah).

o    Kolaborasi dengan dua rekan CGP satu sekolah.

o    Merancang pembelajaran yang kreatif dan inovatif  (yang dikondisikan selama pandemi Covid 19).

o    Implementasi Pelaksanaan membangun budaya positif  pada tanggal 15 Juli 2021.

o    Meningkatkan motivasi  perwujudan budaya positif  di sekolah bersinergi dengan visi sekolah (Beriman, berilmu, dan berbudaya).

o    Mengadakan refleksi dan evaluasi ketercapaian program (Aksi Nyata ini dilakukan pada akhir semester dan masa libur semester  Aksi nyata dilanjutkan pada saat  ajaran baru disertai menunggu pembagian SK JJM).  

o    Tindakan aksi nyata ini akan dilaksanakan selama kurun waktu 4 minggu dengan rincian sebagai berikut :

Minggu 1

Meminta dukungan, izin dan sosialisasi kepada Kepala Sekolah untuk melakukan rencana tindakan aksi nyata dan menyampaikan juga kepada rekan-rekan guru serta siswa.

o       Minggu 2

Membentuk komunitas praktisi dengan rekan sejawat . mengkomunikasikan penerapan budaya positif sekolah.

o        Minggu 3

Melakukan diskusi dengan masing-masing siswa  mengenai pelaksanaan kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas disepakati dengan menempelkan pada  tempat yang telah ditentukan.

o       Minggu 4

Penerapan hasil kesepakatan kelas ketika berlangsungnya proses pembelajaran secara tatap muka.Meskipun demikian kesepakatan kelas ini  ketika berlangsungnya pembelajaran daring setidaknya upaya menghadirkan kesadaran diri peserta didik melalaui penerapan kesepakatan kelas tetap harus dijalankan.

Dukungan yang dibutuhkan

o        Ekosistem sekolah  (Kepala sekolah, Rekan Guru ,TU, Komite sekolah, dan teman-teman CGP seperjuangan),  fasilitator, dan pendamping.

o    Siswa-siswa sebagai subjek tindakan aksi nyata

o    Sarana dan prasarana yang menunjang.

HASIL  AKSI  NYATA                    

Proses pembelajaran masa pandemi Covid  turut  berdampak dalam proses pelaksanaan dan penerapan budaya positif di sekolah. Pandemi bukan  penghalang akan tetapi mendidik semua warga sekolah  untuk  patuh menerapkan protokol kesehatan dengan  menumbuhkan dan meningkatkan semangat  motivasi budaya positif   dengan pelaksanaan kesepakatan kelas wujud nyata budaya positif sekolah.

PEMBELAJARAN DARI PELAKSANAAN

Proses kegiatan aksi nyata ini belum  terlaksana sesuai dengan rancangan karena masa pandemic pembelajaran yang menerapan sift pagi dan sift siang.  Di tengah merebaknya wabah COVID-19 belakangan ini, menerapkan pembelajaran berbasis  upaya physical distancing atau menjaga jarak fisik untuk menekan penyebaran virus bermanfaat untuk melindungi peserta didik dari penyebaran virus COVID-19. Apalagi pemerintah sudah mengimbau agar masyarakat dapat beraktivitas di rumah sebagai upaya physical distancing atau menjaga jarak fisik untuk menekan penyebaran virus. Namun, tidak bisa dipungkiri ada kendala yang di hadapi waktu pelajaran di kelas yang terbatas. Apapun itu tidak menjadi kendala , di hadapi, di jalani dan di syukuri dengan menjaga kesehatan yang terutama.

RENCANA PERBAIKAN DI MASA MENDATANG

Rencana pembelajaran dan perangkat ajar perlu dipastikan dapat memfasilitasi interaksi antara guru dan peserta didik perlu melakukan perbaikan pembelajaran dengan mempertimbangkan respons dan partisipasi peserta didik selama pembelajaran, hasil asesmen formatif dan umpan balik dari peserta didik. Perubahan yang akan dilakukan, mulai dari diri sendiri membudayakan 5 S, dan menerapkan kedisiplinan dengan cara berkomunikasi dengan siswa secara dua arah. Menerima dan memberikan aspirasi murid merdeka dalam menentukan daftar kesepakatan belajar bersama. Dengan kontrol guru, semua menyepakati poin-poin kesepakatan dan di tandatangani oleh masing-masing. Melakukan refleksi bersama atas kesepakatan yang diberlakukan. Perubahan yang diharapkan akan dirasakan, mampu berempati kepada siswa, karena lebih banyak mendengar daripada menginstruksikan, lebih banyak menerima aspirasi ketimbang arahan-arahan yang tidak efektif.

DOKUMENTASI

Berikut penerapan hasil pelaksanaan program tindakan aksi nyata yang telah dilakukan








Komentar